MAKALAH FILOSOFI DAN LANDASAN PANCASILA
“Landasan Filofis Pendidikan Idealisme dan Realisme”
Dosen Pengampu : Mustakim JM, M.Pd
Kelompok II :
1. Fina Amalia
2. Sahara Dwi Cahya
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCAG KUNING
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya hanturkan kepada Allah SWT.Karena telah memberikan kita kesehatan.Shalawat serta salam tetap kita curahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Karena dengan perjuangan dan jihad dari dakwah beliau sekarang kita bisa merasakan nikmatnya iman dan islam dari agama yang beliau sebarkan. Dan semoga kelak kita menjadi umat yang beliau syafaati di padang tandus yang tidak kita temui syafaat selain dari beliau.
Makalah ini dibuat dengan judul “Landasan Filosofis Pendidikan Idealisme dan Realisme” diharapkan bisa membuat pembaca mengerti tentang landasan-landasan fiosofis pendidikan,serta mengetahui aliran-aliran pendidikan.
Makalah ini masih sangat sederhana dan masih banyak sekali ditemukan kekurangan baik isi , atau kata yang kurang tepat dalam penyajiannya dan kami sangat mengharap kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini. Walaupun demikian makalah ini juga sangat bermanfaat bagi kita karena dengan membaca makalah ini kita mengetahui landasan filosofis pendidikan dan aliran alirannya. Demikian sebagai pengantar makalah ini.
Pekanbaru, 16 Oktober 2018
Kelompok II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................2
Daftar Isi….............................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................5
1.3 Tujuan..................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Landasan Filosofis Pendidikan.......................................................6
A.Pengertian Filsafat Pendidikan..................................................7
B. Landasan Filosofis......................................................................8
2.2. Aliran Idealisme dan Realisme dalam Filsafat Pendidikan ... ..10
A. Filsafat Pendidikan Idealisme..................................... ..10
B. Filsafat Pendidikan Realisme........................................18
2.3. Tujuan Pendidikan.........................................................................21
BAN III PENUTUP
A.Kesimpuan............................................................................................23
B.Saran ....................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Terdapat banyak alasan untuk mempelajari filsafat pendidikan, khususnya apabila ada pertanyaan rasional yang seyogyanya tidak dapat dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu pendidikan. Pakar dan praktisi pendidikan memandang filsafat yang membahas konsep dan praktik pendidikan secara komprehensif sebagai bagian yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Terlebih lagi, di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang melaju sangat pesat, pendidikan harus diberi inovasi agar tidak ketinggalan perkembangan serta memiliki arah tujuan yang jelas. Di sinilah perlunya konstruksi filosofis yang mampu melandasi teori dan praktek pendidikan untuk mencapai keberhasilan substantif.
Sejarah filsafat menunjukkan bahwa tidak hanya satu filsafat yang berkembang, melainkan banyak jenis aliran atau mazhab filsafat. Dalam filsafat ditemukan adanya aliran seperti idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, eksistensialime, dan sebagainya. Dengan demikian, pendekatan filosofis dalam memaknai teori pendidikan akan didasari oleh berbagai aliran filsafat tersebut. Dalam mempelajari dan mengembangkan teori pendidikan perlu dipahami aliran-aliran filsafat yang melandasinya.
Kiranya kegiatan pendidikan tidak sekedar dipandang sebagai gejala sosial yang bersifat rasional semata akan tetapi ada sesuatu yang mendasarinya. Peranan filsafat dalam mendasari teori ataupun praktek pendidikan merupakan salah satu sumbangan berharga bagi pengembangan pendidikan. Dengan memperhatikan uraian di atas, salah satu pertanyaan yang muncul adalah: “Bagaimana aliran-aliran filsafat melandasi teori pendidikan yang secara ideaisme dan reaisme ?” Pertanyaan tersebut akan dijawab dengan mengkaji pemikiran tentang teori pendidikan menurut aliran-aliran filsafat yang ada.
Pendidikan diselenggarakan berdasarkan filsafat hidup serta berlandaskan sosiokultural setiap masyarakat, termasuk di Indonesia. Kajian ketiga landasan itu (filsafat, sosiologis dan kultural) akan membekali setiap tenaga kependidikan dengan wawasan dan pengetahuan yang tepat tentang bidang tugasnya. Pendidikan adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Salah satu komponen yang tak pernah terpisahkan,seringkali orang menyepelekan landasan pendidikan. Padahal landasan pendidikan dan pendidikan tak bisa terpisahkan sebagaimana pondasi dan bangunannya.Dalam makalah ini penulis berusaha memaparkan landasan pendidikan baik secara Idealisme dan juga Realisme.
1.2. Rumusan Masalah
Berpijak dari Latar Belakang di atas dapat dirumuskan menjadi:
1. Apa tujuan pendidikan di Indonesia
2. Apakah pengertian Filsafat Pendidikan
3. Pengertian filosofis Pendidikan Idealisme dan Realisma?
4. Bagaimanakah cara penerapan aliran-aliran pendidikan tersebut?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian landasan filosofis pendidikan
3. Mengetahui landasan pendidikan nasional di indonesia
4. Mengetahui aliran filsafat pendidikan Idealisme dan Realisme
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN
Filsafat pendidikan merupakan terapan dari ilmu filsafat secara umum. Dalam mempelajari filsafat terdapat beberapa aliran pemikiran: Idealism, Realism, Perennialism, Essensialism, Pragmatism, Progressivism dll. Aliran Idealisme dan Realisme adalah dua aliran klasik dari barat yang masih bertahan hinga kini. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu:
1. Filsafat pendidikan “ Konservatif”
Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
2. Filsafat pendidikan “Progresif”
Di antaranya didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantic, naturalisme dari Roousseau, Progressivisme, dan sebagainya.
Dalam keseharian saat mengajar maka praktisi pendidikan akan menemui berbagai permasalahan. Bagaimana kita memandang dan menyelesaikan permasalahan tersebut seringkali mencerminkan pandangan filosofi kita. Peraturan dan prosedur yang digunakan sekolah untuk menyelesaikan masalah dalam pendidikan seringkali juga mencerminkan filsafat yang mendasarinya. Dengan mempelajari berbagai aliran filosofi ini kita dapat mengembangkan pandangan kita dalam memandang
Ada aliran utama filsafat di dunia sampai sekarang (Laboratorium Pancasila IKIP MALANG, hal.14): Materialisme: mengajarkan bahwa hakikat realitas semesta, termasuk mahluk hidup, manusia, hakikatnya ialah materi. Semua realitas itu ditentukan oleh materi dan terikat oleh hukum alat: sebab akibat yang bersifat obyektif. Idealisme/Spiritualisme: mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia, subyek manusia sadar atas realitas dirinya dan semesta, karena ada akal budi dan kesadaran rohani. Hakikat diri adalah akal dan budi (ide, spirit). Realisme: mengajarkan bahwa materialisme dan idealisme tidak sesuai dengan kenyataan: tidak realistis. Realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukan materi semata-mata. Realita adalah perpaduan materi dan non materi (spiritual, ide, rohani); terutama pada manusia nampak adanya gejala daya pikir, cipta, dan budi. Jadi realisme merupakan sintesis jasmani dan rohani, materi dan non materi.
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Ajaran filsafat yang komperehensif itu telah menduduki status yang tinggi dalam kehidupan kebudayaan manusia,yakni sebagai ideologi suatu bangsa dan negara. Manusia sebagai pribadi ataupun sebagai masyarakat ,sebagai bangsa dan negara hidup di dalam sosio-budaya. Aktivitas untuk mewariskan dan mengembangkan sosio-budaya itu terutama melalui pendidikan.Untuk menjamin supaya pendidikan itu benar dan prosesnya efektif maka dibutuhkan terutama landasan filosofis dan landasan –landasan ilmiah. Dalam bentuknya yang lebih terperinci kemudian, filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan.Sekedar tinjauan sejarah ide-ide filsafat pendidikan itu,antara lain tersimpul di dalam pandangan:
1. Teori (Hukum)Empirisme
Ajaran filsafat empirisme yang dipelopori oleh John Lockke(1632-1704) mengajarkan bahwa perkembangan ditentukan oleh fator-faktor lingkungan,terutama pendidikan. John lockke berkesimpulan bahwa tiap individu lahir sebagai kertas-putih,dan lingkungan itulah yang ‘menulisi’ putih itu. Teori ini terkenal sebagai teori tabula-rasa atau teori empirisme. Bagi john locke faktor pengalaman yang berasal dari lingkungan itulah yang menentukan pribadi seseorang.
2. Teori (hukum)nativisme
Ajaran filsafat nativisme yang dapat digolongkan filsafat idealisme berkesimpulan bahwa perkembangan pribadi hanya di tentukan hereditas,faktor dalam yang bersifat kodrati.ajaran nativisme dapat dianggap aliran pesimistis karena menerima kepribadian sebagaimana adanya,tanpa kepercayaan adanya nilai-nilai pendidikan untuk merubah kepribadian.
3. Teori (hukum)konvergensi
Bagaimanpun kuatnya alsan kedua aliran pandangan di atas,namun keduanya kurang realistis. Suatu kenyataan, bahwa potensi hereditas yang baik saja,tanpa pengaruh lingkungan(pendidikan)yang positif tidak akan membina kepribadian yang ideal. Sebaliknya, meskipun lingkungan (pendidikan)yang positif dan maksimal,tidak akan menghasilkan kepribadian ideal tanpa potensi hereditas yang baik.
Oleh karena itu,perkembangan pribadi sesungguhnya adalah hasil prosesv kerjasama kedua faktor,baik internal(potensi hereditas) maupun faktor eksternal (lingkungan,pendidikan)
Filsafat dan pendidikan tidaklah terpisahkan. Filsafat adalah menetapkan ide-ide dan idealisme,dan pendidikan merupakan usaha merelisasi ide-ide itu menjadi kenyataan ,tingkah-laku ,bahkan membina kepribadian.
B. Landasan Filosofis
Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir, namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Tegasnya, filsafat adalah karya akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat merupakan ilmu atau pendekatan yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Menurut Immanuel Kant (1724-1804) yang seringkali disebut sebagai raksasa pemikir Barat, filsafat adalah ilmu pokok yang merupakan pangkal dari segala pengetahuan.
Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme.
1. ¬Esensialisme
Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.
2. Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.
3. Pragmatisme dan Progresifme
Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.
4. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.
Fisosofi dan pendidikan adalah dua hal yang tak terpisahkan,menjadikan filosofi dan pendidikan satu kesatuan yang saling berkaita. Dalam filosofi pendidikan terdapat 9 aliran pendidikan yaitu:a).idealisme,b).realisme,c)pragmatisme,d)progresivisme,e)esensialisme,f)perenialisme,g)eksistensisme,h)rekonstrukssionime,i)behaviorisme. Filosofis pendidikan adalah pendidikan yang ditinjau dari segi filosofi(filsafat).
Jika di telaah dengan seksama lahirnya aliran-aliran tersebut berkaitan dengan pemaknaan berbagai kalangan di dalam memaknai pendidikan secara filosofi.
2.2. Aliran Idealisme dan Realisme dalam Filsafat Pendidikan
Saat kemunculannya yang pertama,filsafat tidak memiliki definisi lain selain sebagai cara atau seni menuju bijak. Dalam konseptualisasi ekstrem,filsafat pada periode pertama saat mulai disadari bahkan tidak,belum memiliki nama apaun,termasuk nama “filsafat”. Dalam bab ini kita membicarakan tentang aliran-aliran pokok dalam filsafat pendidikan, yaitu:
A. Filsafat Pendidikan Idealisme
Istilah “idealisme” tentu saja telah menjadi istilah atau frase yang sering kita dengar, bahkan kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi,istilah “idealis” dalam filsafat,selalu mempunyai arti berbeda dari kata “idealis”dalam bahasa sehari-hari. Idealisme dalam filsafat adalah aliran pemikiran filsafat yang kental dengan corak metafisik. Idealisme memandang bahwa realitas terdiri atas ide-ide,pikiran-pikiran,akal(mind),atau jiwa,bukan benda material. Idealisme menekankan ‘idea’ jauh terlebih dulu ada ketimbang materi.
Dalam perkembangannya, idealisme tumbuh menjadi pandangan dunia atau metafisika yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atau sangat berhubungan dengan ide,pikiran,dan jiwa. Kecenderungan-kecenderungan pemikiran idealisme ini lebih banyak muncul dan berkembang di belahan dunia barat yang di mulai dengan masa pencerahan dan renaissans. Perdebatan-perdebatan filosofis telah muncul ke permukaan sebagai aliran rasionalisme dan juga empirisme yang keduanya pada tahap tertentu telah memunculkan pandangan idealisme yaitu:
Jenis-jenis Idealisme
a. Idealisme Subyektif (Immaterialisme) :
Seorang idealis subyektif berpendirian bahwa akal, jiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Obyek pengalaman bukan benda material, obyek pengalaman adalah persepsi. Benda-benda seperti bangunan dan pohon-pohonan itu ada, tetapi hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. George Berkeley (1685-1753), seorang filosof dari Irlandia. Ia lebih suka menamakan filsafatnya dengan immaterialisme.Baginya, ide adalah 'esse est perzipi' (ada berarti dipersepsikan). Tetapi akal itu sendiri tidak perlu dipersepsikan agar dapat berada. Akal adalah yang melakukan persepsi. Segala yang riil adalah akal yang sadar atau suatu persepsi atau ide yang dimiliki oleh akal tersebut.
Berkeley menyatakanbahwa ketertiban dan konsistensi alam adalah riil disebabkan oleh akal yang aktif yaitu akal Tuhan, akal yang tertinggi, adalah pencipta dan pengatur alam. Kehendak Tuhan adalah hukum alam. Tuhan menentukan urutan dan susunan ide-ide. Berkeley menyatakanbahwa ketertiban dan konsistensi alam adalah riil disebabkan oleh akal yang aktif yaitu akal Tuhan, akal yang tertinggi, adalah pencipta dan pengatur alam. Kehendak Tuhan adalah hukum alam. Tuhan menentukan urutan dan susunan ide-ide.Tak mungkin ada benda atau persepsi tanpa seorang yang mengetahui benda atau persepsi tersebut, subyek (akal atau si yang tahu) seakan-akan menciptakan obyeknya (apa yang disebut materi atau benda-benda) bahwa apa yang riil itu adalah akal yang sadar atau persepsi yang dilakukan oleh akal tersebut.
a. Idealisme Obyektif
Platomenamakan realitas yang fundamental dengan nama ide, tetapi baginya, tidak seperti Berkeley, hal tersebut tidak berarti bahwa ide itu, untuk berada, harus bersandar kepada suatu akal, apakah itu akal manusia atau akal Tuhan. Platopercaya bahwa di belakang alam perubahan atau alam empiris, alam fenomena yang kita lihat atau kita rasakan, terdapat dalam ideal, yaitu alam essensi, formatau ide. Plato:dunia dibagi dalam dua bagian.
a)Pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia seperti itu, yakni yang kongkrit, temporal dan rusak, bukanlah dunia yang sesungguhnya, melainkan dunia penampakkan saja.
b)Kedua, terdapat alam di atas alam benda, yaitu alam konsep, ide, universal atau essensiyang abadi. Konsep manusiamengandung realitasyang lebih besar daripada yang dimiliki orang seorang. Dikenalnyabenda-benda individual karena mengetahui konsep-konsep dari contoh-contoh yang abadi.
Ide-ide adalah contoh yang transenden dan asli, sedangkan persepsi dan benda-benda individual adalah copyatau bayangandari ide-ide tersebut. Ide-ide yang tidak berubah atau essensi yang sifatnya riil, diketahui manusia dengan perantaraan akal. Jiwa manusia adalah essensi immaterial, dikurung dalam badan manusia untuk sementara waktu. Dunia materi berubah, jika dipengaruhi rasa indra, hanya akan memberikan opini dan bukan pengetahuan. Ide-ide adalah contoh yang transenden dan asli, sedangkan persepsi dan benda-benda individual adalah copyatau bayangandari ide-ide tersebut. Ide-ide yang tidak berubah atau essensi yang sifatnya riil, diketahui manusia dengan perantaraan akal. Jiwa manusia adalah essensi immaterial, dikurung dalam badan manusia untuk sementara waktu. Dunia materi berubah, jika dipengaruhi rasa indra, hanya akan memberikan opini dan bukan pengetahuan. Kelompok idealis obyektif modern berpendapat bahwa semua bagian alam tercakup dalam suatu tertib yang meliputi segala sesuatu, dan mereka menghubungkan kesatuan tersebut kepada ide dan maksud-maksud dari suatu akal yang mutlak (absolute mind).
Hegel (1770-1831) memaparkan satu dari sistem-sistem yang terbaik dalam idealisme monistik ataumutlak(absolute). Pikiran adalah essensi dari alam dan alam adalah keseluruhan jiwa yang diobyektifkan. Alam adalahAkal yang Mutlak(absolute reason) yang mengekpresikan dirinya dalam bentuk luar. Sejarahadalah cara zat Mutlak (absolute) itu menjelmadalam waktu dan pengalaman manusia. Oleh karena alam itu satu, dan bersifat mempunyai maksud serta berpikir, maka alam itu harus berwatak pikiran. Hegel membentangkan suatu konsepsi yang dinamik tentang jiwa dan lingkungan; jiwa dan lingkungan itu adalah begitu berkaitan sehingga tidak dapat mengadakan pembedaan yang jelas antara keduanya. Jiwa mengalami realitas setiap waktu.
c. Idealisme Personal
Personalismemuncul sebagai protesterhadap meterialisme mekanik dan idealisme monistik. Bagi seorang personalis, realitas dasar itu bukannya pemikiran yang abstrak atau proses pemikiran yang khusus, akan tetapi seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Realitas itu termasuk dalam personalitas yang sadar. Jiwa (self) adalah satuan kehidupan yang tak dapat diperkecil lagi, dan hanya dapat dibagi dengan cara abstraksi yang palsu. Kelompok personalis berpendapat bahwa perkembangan terakhir dalam sains modern, termasuk di dalamnya formulasi teori realitas dan pengakuan yang selau bertambah terhadap 'tempat berpijaknya si pengamat' telah memperkuat sikap mereka. Realitasadalah suatu sistem jiwa personal, oleh karena itu realitas bersifat pluralistik. Kelompok personalis menekankan realitas dan harga diri dari orang-orang, nilai moral, dan kemerdekaan manusia. Bagi kelompok personalis, alam adalah tata tertib yang obyektif, walaupun begitu alam tidak berada sendiri. Manusia mengatasi alam jika ia mengadakan interpretasi terhadap alam ini. Sains mengatasi materialnya melalui teori-teorinya; alam arti dan alam nilai menjangkau lebih jauh daripada alam semesta sebagai penjelasan terakhir.Realitas adalah masyarakat perseorangan yang juga mencakup Zat yang tidak diciptakan dan orang-orang yang diciptakan Tuhan dalam masyarakat manusia. Alam diciptakan oleh Tuhan, Akuyang Maha Tinggi dalam masyarakat individu. Terdapat suatu masyarakat person atau aku-akuyang ada hubungannya dengan personalitas tertinggi. Personalisme bersifat theistik(percaya pada adanya Tuhan), ia memberi dasar metafisik kepada agama dan etika.
Idealisme menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia memiliki arti:
1. Suatu aliran di ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai
satu-satunya hal yang benar, yang dapat dirasakan dan dipahami .
2. Hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita (yaitu menurut suatu patokan atau pedoman yang dianggap sempurna).
3. Sas aliran yg mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dng kenyataan.
Idealisme merupakan sistem filsafat yang telah dikembangkan oleh para filsuf di Barat maupun di Timur. Di Timur, idealisme berasal dari India Kuno, dan di Barat idealisme berasal dari Plato, yaitu filsuf Yunani yang hidpu pada tahun 427-347 sebelum Masehi. Dalam pengertian filsafati, idealisme adalah sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul) atau jiwa (spirit) dari pada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material. Pandangan-pandangan umum yang disepakati oleh para filsuf idealisme, yaitu:
1. Jiwa (soul) manusia adalah unsur yang paling penting dalam hidup.
2. Hakikat akhir alam semesta pada dasarnya adalah nonmaterial.
Menurut paham Idealisme bahwa yang sesungguhnya nyata adalah ruh, mental atau jiwa. Alam semesta ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada manusia yang punya kecerdasan dan kesadaran atas keberadaannya. Materi apapun ada karena diindra dan dipersepsikan oleh otak manusia. Waktu dan sejarah baru ada karena adanya gambaran mental hasil pemikiran manusia. Dahulu, sekarang atau nanti adalah gambaran mental manusia. Ludwig NoirĂ© berpendapat "The only space or place of the world is the soul," and "Time must not be assumed to exist outside the soul”.
Keunikan manusia terletak dalam fakta bahwa manusia memberikan makna- makna simbolik bagi tindakan-tindakan mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan menggunakan konstruk mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka. Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda- beda dalam masyarakat yang berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita- cita yang berbeda pula. Paham idealisme memandang bahwa cita-cita (yang bersifat luhur) adalah sasaran yang harus dikejar dalam tindakan manusia. Manusia menggunakan akalnya untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari baik untuk dirinya dan masyarakat.
Para idealis menganggap esensi jiwa adalah kekal sedangkan jasad adalah fana. Lebih lanjut penganut idealisme transendental menganggap bahwa alam semesta atau makro kosmos ini tidak ada. Karena sesungguhnya yang ada hanyalah Allah yang menciptakannya. Diri manusia atau mikro kosmos adalah makhluk spiritual yang merupakan bagian dari substansi spiritual alam semesta.
Apa yang harus diketahui sesungguhnya sudah ada dalam jiwa. Tugas pendidik adalah membuat pengetahuan yang tersimpan dalam hati ini menjadi kesadaran. Para mendidik berusaha agar murid mencapai keadaan kesempurnaannya. Untuk mencapai manusia sempurna ini seperangkat kurikulum disusun secara terstruktur (bertingkat) dengan berdasarkan warisan pemikiran terbaik generasi demi generasi. Paling tinggi tingkatannya adalah ilmu umum tentang filosofi dan theologi. Kedua hal ini bersifat abstrak. Matematika menjadi alat yang sangat berguna untuk memahami ilmu atau logika yang bersifat abstrak. Sejarah dan literatur mempunyai posisi yang tinggi karena ia mewariskan nilai moral, model budaya dan kepahlawanan maupun contoh kehidupan. Ilmu alam dan sain menjadi prioritas berikutnya karena menyediakan penjelasan tentang hubungan sebab akibat.
Di samping siswa memahami literatur, Idealisme menganggap perlu terbentuknya manusia yang baik. Untuk itu siswa tidak hanya didorong untuk mengembangkan skill dan akal pikiran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan yg secara naluri sudah ada. Bagi idealist maka nilai-nilai mencerminkan kebaikan yang terkandung pada alam semesta. Nilai-nilai ini bersifat absolut, universal dan tidak berubah. Tindakan etis muncul dari warisan budaya. Pendidik mengajarkan kepada murid-muridnya akan nilai- nilai unggul dari mahakarya manusia yang bertahan dari masa ke masa.
Pertanyaan mendasar seperti: Apa itu pengetahuan? Jawabnya: Pengetahuan adalah sesuatu yang menyangkut tentang prinsip-prinsip spiritual yang mendasari realitas. Pengetahuan tentang realitas ini membentuk ide-ide atau gagasan. Pendidikan adalah proses intelektual membawa gagasan atau ide kepada kesadaran para pembelajar.
Pertanyaan tentang: Apakah itu sekolah? Jawabnya: Sekolah adalah agen sosial di mana siswa berusaha mencari, mengungkap dan mendapatkan kebenaran. Sekolah adalah institusi dimana guru dan murid mencari jawab atas pertanyaan mendasar seperti: Apakah kebenaran itu? Apakah yang dinamakan keindahan itu? Apakah kehidupan yang baik itu? Semua orang berhak mendapatkan pegetahuan ini. Sehingga semua orang berhak sekolah. Meski demikian tidak setiap orang mempunyai kemampuan intelektual yang sama. Murid yang cerdas perlu mendapatkan tantangan yang lebih dari guru. Tujuan pembelajaran adalah memupuk kreatifitas.
Bagaimana cara pembelajaran dilakukan? Methode yang paling sesuai adalah metode dialog Socrates. Siswa dipancing dengan pertanyaan yang dapat membangkitkan kesadaran. Aspek lain yang penting dalam padangan idealits adalah pemberian contoh teladan. Guru harus mempunyai wawasan luas tentang warisan budaya.
Dalam bidang masalah kualitas maka guru idealist menerapkan standar nilai yang tinggi bagi siswa-siswanya. Dalam Plato’s Republic, misalnya, standar nilai ini ditetapkan sedemikian tinggi sehingga hanya sedikit siswa yang mampu mencapainya dan menjadi ‘raja filsafat’.
Guru menjadi agen penting dalam menolong siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Guru idealis menyajikan bahan belajar berupa warisan budaya yang terbaik. Membuat siswa berperan dalam menyumbangkan karya mereka untuk kebudayaan. Sejarah dilihat sebagai cara melihat bagaimana manusia besar memberikan sumbangsih pada dunia. Guru akan menyajikan karya klasik terbaik dibidang seni, literatur maupun musik untuk dipelajari dan dinikmati.
Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu terletak di luarnya. Konsep filsafat menurut aliran idealisme adalah: (1) Metafisika-idealisme; Secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih dapat berperan; (2) Humanologi-idealisme; Jiwa dikarunai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih; (3) Epistemologi-idealisme; Pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang; sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat berpendapat; (4) Aksiologi-idealisme; Kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika
Dalam hubungannya dengan pendidikan, idealisme memberi sumbangan yang besar tehadap perkembangan filsafat pendidikan. Kaum idealis percaya bahwa anak merupakan bagian dari alam spiritual, yang memiliki pembawaan spiritual sesuai potensialitasnya. Oleh karena itu, pendidikan harus mengajarkan hubungan antara anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan harus menekankan kesesuian batin antara anak dan alam semesta. Pendidikan merupakan pertumbuhan ke arah tujuan pribadi manusia yang ideal. Pendidik yang idealisme mewujudkan sedapat mungkin watak yang terbaik. Pendidik harus memandang anak sebagai tujuan, bukan sebagai alat.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan idealisme adalah sebagai berikut:
(1) Tujuan: untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikkan sosial;
(2) Kurikulum: pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan;
(3) Metode: diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan;
(4) Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya;
(5) Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam.
Implementasi Idealisme dalam Pendidikan:
1) Pendidikan bukan hanya mengembangkan dan menumbuhkan, tetapi juga harus menuju pada tujuan yaitu dimana nilai telah direalisasikan ke dalam bentuk yang kekal dan tak terbatas.
2) Pendidikan adalah proses melatih pikiran, ingatan, perasaan. Baik untuk memahami realita, nilai-nilai, kebenaran, maupun sebagai warisan sosial.
3) Tujuan pendidikan adalah menjaga keunggulan kultural, sosial dan spiritual. Memperkenalkan suatu spirit intelektual guna membangun masyarakat yang ideal.
4) Pendidikan idealisme berusaha agar seseorang dapat mencapai nilai-nilai dan ide-ide yang diperlukan oleh semua manusia secara bersama-sama.
5) Tujuan pendidikan idealisme adalah ketepatan mutlak. Untuk itu, kurikulum seyogyanya bersifat tetap dan tidak menerima perkembangan.
6) Peranan pendidik menurut aliran ini adalah memenuhi akal peserta didik dengan hakekat-hakekat dan pengetahuan yang tepat.
B. Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme demikian aliran filsafat ini kerap dipandang sebagai sisi keping yang berbeda dari idealisme,hadir menjadi reaksi corak idealisme yang cenderung abstrak dan metafisik. Instrumen utama realisme adalah indra dan terlepas dari asumsi pengetahuan yang di konstruksi akal pikir. Ini menjadi pembeda tegas dengan idealisme yang justru lebih bepegang pada kondisi-kondisi mental akal pikiran.
Jenis-Jenis Realisme
Aliran realisme dibagi menjadi dua yaitu realisme rasional dan realisme alam (Musdiani, 2011). Aliran realisme rasional yang berasal dari Aristoteles dibagai menjadi dua yaitu :
1. Realisme klasik
Realisme klasik berasal dari pandangan Aristoteles. Menganggap bahwa segala sesuatu yang ada berdasarkan hal yang nyata. Aristoteles menganggap bahwa setiap benda ada tanpa adanya roh.
2. Realisme religius
Realisme ini berasal dari pandangan Thomas Aquina, yaitu filsafat agama Kristen yang lebih dikenal dengan aliran Thomisme. Aliran ini menganggap bahwa jiwa itu penting walaupun tidak nyata seperti badan. Sehingga aliran ini mempercayai bahwa jiwa dan badan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Pengetahuan didapat dari wahyu, berpikir dan pengalaman. Aturan-aturan keharmonisan alam semesta ini merupakan ciptaan Tuhan yang harus dipelajari.
Aliran realisme alam atau realisme ilmiah mengembangkan ilmu pengetahuan alam. Aliran realisme ini bersifat skeptis dan eksperimental. Aliran ini menganggap bahwa alam semesta itu nyata dan yang mempelajarinya adalah ilmu pengetahuan bukan ilmu filsafat. Tugas ilmu pengetahuan adalah menyelidiki semua isi alam sedangkan tugas ilmu filsafat adalah mengkoordinasi konsep-konsep dan penemuan-penemuan dari ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. Menurut aliran ini alam bersifat tetap. Meskipun ada perubahan di alam namun perubahan tersebut sesuai dengan hukum-hukum alam yang sudah berlaku sehingga alam semesta terus berlangsung dengan teratur.
Selanjutnya realisme agaknya di pengaruhi dua filsuf terkemuka,yaitu Franci Bacon (1561-1626) dengan pemikirannya tentang metodologi induktif serta John Locke tentang konsep akal-pikir jiwa manusia yang disebut “tabula rasa”,ruang kosong tak ubahnya kertas putih kemudian menerima impresi lingkungan.
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat menurut aliran realisme adalah:
(1) Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai kenyataan (pluralisme);
(2) Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir;
(3) Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta;
(4) Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam.
Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut:
(1) Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial;
(2) Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis;
(3) Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan;
(4) Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik;
(5) Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
2.3. Tujuan Pendidikan
Langeveld mengemukakan serangkain tujuan pendidikan,yang saling bertautan sebagai berikut:
a. Tujuan Umum
b. Tujuan Khusus
c. Tujuan Terlengkap
d. Tujuan insidentil
e. Tujuan sementara
a) Tujuan umum
Tujuan ini juga disebut tujun total, tujuan yang sempurna atau tujuan akhir. Kohnstan dan Gunning mengatakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan itu ialah untukmembentuk insan kamil atau manusia sempurna .manusia dapat dikatakan sebagai insan kamil, apabila dalam hidupnya menunjukan adanya keharmonisan /keselarasan antara jasmaniah dan rohaniah. Harmonis antara segi-segi dalam kejiwaan. Atau dengan kata lain bahwa kehidupan sebagai insan kamil adalah merupakan suatu kehidupan dimana terjamin adanya ketiga inti hakiakat manusia ,yaitu manusia sebagai makhluk individuil,manusia sebagaimakhluk sosial,dan manusia sebagai makhluk susila.
b) Tujuan khusus
Untuk menuju kepada tujuan umum itu,perlu adanya pengkhususan tujuan yang disesuaikan dengan kondisi atau situasi tertentu. Misalnya:
• Disesuaikan dengan cita-cita pembangunan suatu bangsa
• Disesuaikan dengan tugas dari suatu badan atau lembaga pendidikan
• Disesuaikan dengan bakatkemempuan anak didik
• Disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan sebagainya.
c) Tujuan tak lengkap
Tujuan dari masing-masing aspek pendidikan inilah yang di maksud dengan tujuan pendidikan tak lengkap. Sebab masing-masing aspek tak bisa dipisahkan,padahal masing-masing aspek pendidikan itu hanyalah merupakan bagian dari pendidikan secara keseluruan. Oleh karena itu tujuan dari masing aspek pendidikan itu harus dilengkapi dengan tujuan dan aspek-aspek yang lain. Misalnya: kita hanya mementingkan pendidikan kecerdasan saja, sehingga mengakibatkan yang bersifat intelektualistis atau kita lebih mementingkan pendidikan teori saja,dan kurang memperhatikan segi praktis,hal ini akan mengakibatkan pendidikan yang bersifat teoritis.
d) Tujuan insidentil
Tujuan ini timbul secara kebetulan,secara mendadak dan hanya bersifat sesaat.misalnya : tujuan untuk mengadakan hiburan atau variasi dalam khdupan sekolah. Maka diadakanlah darmawisata ke suatu tempat. Dalam hal ini tujuan itu telah selesai,setelah darmawisata dilaksanakan.
e) Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan-tujuan yang ingin kita capai dalam fase-fase tertentu dari pendidikan . Misalnya: anak dimasukkan ke sekolah .tujuannya ialah agar anak dapat membaca dan menulis. Dapat membaca dan menulis ini adalah merupakan tujuan sementara. Tujuan yang lebih lanjut ialah agar anak dapat belajar ilmu pengetahuan dari buku-buku.Dapat belajar dari buku,inipun merupakan tujuan sementara . tujuan utamanya ialah agar anak memiliki ilmu pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian yang telah dikemukakan dalam pembahasan diperoleh temuan sebagai sebagai berikut:
Teori pendidikan yang berisikan konsep-konsep dapat dipelajari dengan menggunakan berbagai pendekatan, antara lain pendekatan filosofi yang akan melahirkan pemahaman tentang filsafat pendidikan. Pendekatan filosofis terhadap pendidikan merupakan suatu pende¬katan untuk menelaah dan memecahkan masalah pendidikan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat, karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang terbatas pada pengalaman. Salah satunya dengan memberikan landasan filosofis pendidikan Idealisme yang bersifat spritual(ideal), yang mana kemampuan ini membuat Manusia memiliki kemampuan rasional untuk menentukan pilihan. Sedangkan pendidikan aliran Realisme yang mana Sesuatu yang nyata, substantial dan material yang hadir dengan sendirinya (entity), seperti Pikiran (jiwa) atau ide-ide untuk mencari objek dan menemukan sebuah kebenaran.
Implikasi filsafat dalam pendidikan adalah sebagai tujuan untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.Kurikulum, pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan. Metode, diutamakan metode dialektika (saling mengaitkan ilmu yang satu dengan yang lain), tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan. Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya.Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam.
B. Saran
Pendidikan dapat dipelajari secara empirik berdasarkan pengalaman maupun melalui perenungan dengan melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Praktek pendidikan memerlukan teori pendidikan, karena teori pendi¬dikan akan memberikan manfaat antara lain: (1) Sebagai pedoman untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan dicapai; (2) Mengurangi kesalahan--kesalahan dalam praktek pendidikan karena dengan memahami teori dapat dipilih mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan; (3) Sebagai tolok ukur untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Mohammad Noor Syam,Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan pancasila,hal.38
Ibid,hal.39
· Drs.H.Abu Ahmadi, ilmu Pendidikan,Jakarta:PT.MELTON PUTR
Hadiwijoyo, Harun, Dr. 2002. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Jakarta: Kanisius.
Maksum, Ali.2009. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmoderenisme. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Ridwan, M.Drs.Dkk. 2000. Kamus Ilmiah Populer . Surabaya: Citra Pelajar Group.
Bakry, Hasbullah. 1970. Sitematik Filsafat. Yogyakarta: Widjaya.
Idris, H. Sahara dan Jamal, H Lisman.1992.Pengantar Pendidikan.Jakarta : Grasindo
Sumitro, Dkk. 2001. Pengantar Ilmu Pendidikan. IKIP Yogyakarta
Sadullah, Uyah.2001. Pengantar Filsafat Pendidikan.Yogyakarta : Alfabet.
